Soal Jalan Mirip Keramik, Wali Kota Medan Disebut Tak Paham Pengerjaan Rekonstruksi

Ketua Badan Pengawas Gapensi Sumut, Tiopan Manuasa Pardede (kiri sudut) bersama Spesialis Konstruksi Bangunan, Ronald Sinaga atau disapa Bro Ron (kanan sudut).

MEDAN, TEROPONGINDONESIA.COM – Pemko Medan masih ramai dibahas masyarakat, terbaru mengenai kondisi anggaran melimpah yang tersedia, proyek pembangunan malah diduga menjadi persoalan karena carut marut.

Lantas kini pengerjaan sejumlah proyek bernilai fantastis Pemko Medan dan bahkan Pemprov Sumut era Edy Rahmayadi pun disorot.

Bacaan Lainnya

Bahkan, dugaan lain di antaranya kongkalikong hingga dugaan korupsi mencuat. Mengingat catatan sejarah nama mantan Gubernur Sumut dan mantan Wali Kota Medan terjerat kasus korupsi.

Ketua Badan Pengawas Gapensi Sumut, Tiopan Manuasa Pardede membeberkan, persoalan jalan licin yang disebut masyarakat mirip keramik di persimpangan Jalan Sudirman, Medan tepatnya didepan kawasan Rumah Dinas Gurbernur Sumatera Utara beberapa waktu lalu, meminta Wali Kota Medan pahami apa itu pengerjaan jalan rekonstruksi.

“Saya sebagai orang berkompeten mengatakan agar Wali Kota Medan paham apa itu pengerjaan jalan rekontruksi. Jangan cuma berbicara estetika jalan, karena itu dua hal yang berbeda. Atau mungkin bisa jadi Bobby tidak pahami itu dan hanya mengamini penjelasan Kadisnya. Tak cuma itu, harus dipahami ada prosedur, bahan khusus yang dipergunakan dalam hal pengerjaan badan jalan,” kata Tiopan.

Tiopan menyebutkan pengerjaan persimpangan perempatan jalan sebagai akses jalan lambat di Jalan Sudirman Medan, seharusnya pengerjaan rekontruksi jalan.

“Rekonstruksi jalanan adalah peningkatan struktur yang merupakan kegiatan penanganan untuk dapat meningkatkan kemampuan bagian ruas jalan yang dalam kondisi rusak berat, agar bagian jalan tersebut mempunyai kondisi mantap kembali, sesuai dengan umur rencana yang ditetapkan. Ini rancangan pengerjaan jalan licin yang tengah viral dan agar diwanti-wanti masyarakat agar tidak tergelincir saat berkendara. Bukan hanya bicara keindahan atau estetika jalanan,” kata Tiopan.

Sementara Spesialis Konstruksi Bangunan, Ronald Sinaga atau disapa Bro Ron, bersama Masyarakat Kontruksi Sumut yang tergabung dalam wadah Gapensi Sumut, Gapeknas Sumut, Askonas Sumut, Aspekindo Sumut, ASTTI Sumut, terus mengkritik carut marut pengerjaaan proyek pembangunan di Medan maupun Sumut.

Ronald menegaskan orang yang paling bertanggung jawab atas carut marut pengerjaan proyek di suatu daerah adalah oknum kepala daerahnya. Dalam hal ini Gubernur Sumatera Utara dalam proyek multiyears Rp 2,7 T dan Wali Kota Medan dalam sejumlah proyek yang dikerjakan.

“Sedangkan secara kontruksi fisik bangunan itu adalah tanggung jawab Kepala Dinas terkait yang melakukan pengerjaan,” sebut Ronald kepada awak media.

Kemudian ia menegaskan, dengan data yang ada mereka juga akan membawa kasus ini ke ranah hukum.“Sudah saatnya kami tidak diam dan masyarakat jangan dibodohi. Karena di proyek proyek pembangunan kita duga kuat sarang KKN, tentunya dalam hal ini kita duga penentunya adalah kepala daerah dengan koleganya. Sementara yang dirugikan uang negara, dan tentunya masyarakat,” tegasnya.

“Kita ini orang yang berkompeten sehinga paham betul mana yang mengalah karena sesuai seleksi alam tidak bisa ditipu jika pengerjaan proyek dilakukan dengan tepat  dan benar, terutama mengutamakan mutu dan kualitas pengerjaan. Untuk itu, jika kami asal bersuara, saya pribadi dan rekan-rekan menanti ada yang muncul melaporkan kami. Sembari kita menghitung waktu membawa ini ke proses hukum,” sambung Bro Ron.

Sebelumnya, penamaan jalan ‘keramik’ itu bermula dari sebuah video yang menampilkan seorang pengendara sepeda motor tergelincir saat melintas di Jalan Sudirman tepatnya di depan Rumah Dinas Gubernur Sumatera Utara (Gubsu).

Jalan tersebut licin karena Pemko Medan mengganti aspal dengan bahan yang bermotif mirip keramik. Di mana pembuat video menjelaskan ada 18 orang terjatuh akibat tergelincir saat berkendara melintasi jalan. Pasca kejadian, Pemko Medan sudah menjelaskan bahwasannya jalan tersebut bukan keramik serta alasan kenapa jalan tersebut licin.

Wali Kota Medan, M Bobby Affif Nasution akui ada miskomunikasi, dan mengakui jalan tersebut memang licin. Ia mengaku sudah mengecek kondisi Jalan Sudirman tersebut.

“Ya jadi saya udah tanya, jadi tadi malam juga udah liat langsung, karena emang dekat dengan kediaman dinas saya. Saya cek langsung tadi malam emang kondisinya licin saya akui,” kata Bobby Nasution di Kantor DPRD Medan, Selasa (21/11/2023) kepada sejumlah awak media.

Ia menjelaskan, berdasarkan keterangan Dinas SDABMBK, pengerjaan jalan tersebut belum selesai. Namun kemarin, kata Bobby, ada miskomunikasi antara Polrestabes Medan, Dinas Perhubungan, dan Dinas SDABMBK terkait pengerjaan jalan itu, jalurnya dibuka yang harusnya belum dibuka.

Bobby lalu menjelaskan kemarin saat kejadian seharusnya dilakukan uji coba untuk internal pengerjaan. Namun usai uji coba, akses ke lokasi tersebut tidak ditutup kembali hingga akhirnya dilintasi oleh warga.

Bobby kemudian tegas membantah jalan terbuat dari keramik usai ramai disebut warga jalan keramik. “Bahan pengganti aspal untuk jalan tersebut bukanlah keramik melainkan rigid beton yang diproses dengan coating dan dicuci dengan bahan kimia tertentu,” jelasnya.

“Itu memang jalannya belum selesai tahap pengerjaannya belum selesai. Silahkan sampaikan, tapi jangan bikin hoaks, itu bukan keramik dan sudah disampaikan diinformasikan juga di sosmed Pemko dan dinas berkaitan sudah menyampaikan itu bukan keramik,” ucapnya. ***

 

 

Pos terkait