Ini Tanggapan KCD Wilayah III Soal Bantuan Tablet

Bekasi – Kepala Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Wilayah III Jawa Barat, Asep Sudarsono menanggapi tudingan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) terkait adanya penyalahgunaan wewenang dalam pengadaan bantuan tablet.

Melalui sambungan telepon, Asep mengaku mengetahui adanya bantuan tersebut tetapi belum mengetahui data seluruhnya secara rinci.

Bacaan Lainnya

Sejak melakukan audiensi dengan pihak GMNI Komisariat Universitas Bhayangkara pada Selasa (11/10/2022), ia mengaku meminta waktu untuk mengumpulkan data yang diminta.

Baca Juga : Mahasiswa Segel Kantor Cabang Dinas Pendidikan Wilayah III

“Jadi bukannya tidak tahu ada bantuan tetapi saya minta waktu, karena itu berkaitan dengan data. Tidak mungkin saya asal ngomong tanpa data,” katanya, Kamis (13/10/2022).

Kendala masalah data yang akurat diakuinya terjadi lantaran bantuan pengadaan tablet melalui BOS Afirmasi dan BOS Kinerja dilaksanakan bukan pada masa jabatannya.

Asep mengaku menjabat sebagai Kepala KCD Pendidikan Wilayah III Jawa Barat sejak Februari 2021, sementara pengadaan tablet dilakukan pada 2019.

“Kepala KCD yang dulu sudah meninggal dunia, yang ngurus BOS Pak Dadang Iskandar juga sudah pindah ke dinas lain. Kemudian Bendaharanya yang ngurus juga pindah ke dinas pendapatan,” jelasnya.

Asep Sudarsono juga mengaku bakal memberikan data yang diminta oleh pihak GMNI hari ini, dengan demikian semua persoalan yang disangkakan kepadanya menjadi jelas.

Ia menambahkan, pengadaan tablet pada 2019 sebenarnya dilakukan untuk keperluan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) bagi siswa kelas XII SMA/SMK. Tetapi lantaran menyebarnya wabah Covid-19 pada dua hari menjelang pelaksanaan ujian, maka UNBK dihentikan.

Menurutnya, hingga saat ini tablet tersebut secara fisik masih ada di sekolah masing-masing penerima bantuan, tetapi beberapa diantaranya sudah mulai mengalami kerusakan.

Tablet tersebut juga dipinjamkan kepada siswa dengan catatan tidak boleh dibawa pulang ke rumah.

“Pada saat pembelajaran dipinjamkan tetapi tidak dibawa ke rumah, karena jumlahnya terbatas. Intinya tiap sekolah berbeda (jumlah bantuan tablet) sesuai dengan jumlah siswa kelas XII, karena memang pengadaannya dulu untuk UNBK,” lanjut dia. (ton)

Pos terkait