Lanjutan Sidang Perkara Perumahan Menteng, Penggugat Hadirkan Saksi

Jakarta – Sidang gugatan sengketa rumah dan tanah antara pelapor Muhammad Sunan Arif dan terlapor Ibu Sonya dan Elisa di gelar di PN Jakarta Pusat. Senin, (18/4/2022) kembali digelar.

Kali ini agendanya mendengarkan keterangan saksi dan pembuktian alat bukti.

Saksi yakni Joko Sutrisno Dawode dihadirkan oleh terlapor selaku terguggat dan menjadi saksi fakta dalam sidang gugatan atas.sengketa berupa 1 unit rumah beserta tanah yang terlertak di Perumahan Menteng Jakarta Pusat.

Saksi tersebut dimintai keterangan oleh majelis hakim yang dipimpin oleh Suparman dengan Panitera Pengganti Suroyo

Joko mengatakan bahwa kehadirannya pada sidang ini untuk memberikan keterangan terkait permasalahan Perumahan Menteng Jakarta Pusat yang murni perdata dimana terdapat dalam objek perkara sudah ada putusan PN Jakarta Pusat pada tahun 1983 dan putusan Pengadilan tinggi serta putusan Mahkamah Agung (Kasasi)

“Keputusan PN yang diperkuat Kasasi itu menyangkut hak-hak penghuni yang harus diberikan 40 persen oleh pemilik yang waktu itu, M. Sunaryo.”kata Joko Sutrisno usai sidang. Senin, (18/4/2022).

Ia menjelaskan pada tahun 1988 pemilik (Sunaryo) meminta eksekusi melalui PN Jakarta Pusat “Kemudian PN Jakarta Pusat meminta kepada Gubernur untuk menghitung tasaksi harga rumah dan tanah.”ucap Joko yang juga sebagai Kabid Advokasi SMSI Kota Bekasi ini.

Lebih jauh Joko menjelaskan bahwa awalnya rumah masih dikuasakan oleh kepala daerah dimana permasalahan objek perkara itu terkait adanya ditetapkan tersangka oleh Polres Jakarta Pusat kepada penghuninya yaitu, Ibu Sonya Tuhawatu dan Ibu Elise M. Tuwahatu

“JadI, saya memberikan keterangan tadi itu sehubungan dengan permasalahan yang murni perdata dimana terdapat dalam objek perkara itu sudah ada putusan PN Jakarta Pusat tahun 1983. Kemudian ada putusan Pengadilan Tinggi dan ada putusan Mahkama Agung (Kasasi) tahun 1986.

Keputusan PN yang diperkuat Kasasi itu terang Joko menyangkut hak-hak penghuni. Yaitu penghuni harus diberikan 40 persen oleh pemilik yang waktu itu pemiliknya adalah M. Sunaryo.

Tapi pada tahun 1988 pemilik minta eksekusi melalui PN Jakarta Pusat. Kemudian PN Jakarta Pusat meminta kepada Gubernur untuk menghitung tasaksi harga rumah dan tanah tersebut

“Oeh Dinas Perumahan pada tahun 1988 sudah dihitung. Dan kebetulan saat itu saya juga yang menghitung saat masih berdinas di Perumahan pada tahun 1982 di bagian sewa menyewa. Tapi hitungan itu tidak dilaksanakan sehingga permasalahan itu belum selesai sampai saat ini.”bebernya.

Namun sambung dia pemilik ternyata menjual rumah dan tanah terrsebut kepada ibu Kholidah pada tahun 1992. Kemudian, tahun 2003, Ibu Holidah memininta hitung ulang nilai harga rumah dan tamah tersebut.

“Itu 2003, dan disitu ada disposisi saya lengkap. Saat itu kasinya Pak Yayat. Nah, ini dia (Holidah) minta tunda. karena apa. Masalahnya sartifikatnya itu masih diagunkan ke Bank.”jelas Joko.

Tahun 2018 2019 ia pernah bertemu dengan Hollidah di daerah Sentul dan mengatakan minta dibantu.”Saat itu tetap saya katakan tetap hak kepenghuniannya ada 40 persen. Dan Ia menagatakan akan mencari pembelinya dan tau-taunya sekarang rumah itu dijual kepada Muhammad Sunan Arif. Itu dapat sartufikat di tahun 2021

Sunan Arif ini jelas Joko juga pernah membuat surat kepada penghuni yakni Ibu Sonya dan Elise akan memberikan uang kerohiman sebesar Rp 1,6 miliar.

“Ternyata, penghuni itu minta keputusan pengadilan 40 persen, akhirnya karena tidak sabaran dari Sunan Arif itu melaporkan penghuni ke Polres Metro Jakarta Pusat dengan pasal 385 dan 167. Kemudian sekarang dia ditetapkan sebagai tersangka.”bebernya.

Sidang selanjutnya akan digelar pada Rabu 20 April mendatang dengan agenda sidang kesimpulan (ton).

Pos terkait