Atasi Krisis Pangan Selama dan Pasca Covid-19, Indonesia Segera Persiapkan Ladang Pangan

  • Whatsapp

Jakarta -Seluruh wilayah Indonesia diminta mewaspadai terjadinya krisis pangan di masa pandemi virus corona (Covid-19) yang tak jua surut hingga saat ini.

Koordinator Nasional Jaringan Aksi Peduli Ketahanan Pangan Alumni Fakultas Pertanian Se-Indonesia, Jainal Jen Maro mengingatkan, tindakan kongkrit untuk menjaga ketahanan pangan nasional yang terganggu karena krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 harus segera dilakukan.

Bacaan Lainnya

Dia mengatakan, Negara ini jangan sibuk dengan hanya melakukan distribusi bansos atau bantuan lainnya. Salah satu langkah konkrit yang bisa dilakukan untuk mengatasi krisis pangan di masa pandemi adalah dengan pemanfaatan lahan lahan kosong.

“Manfaatkan lahan-lahan kosong di pedesaan untuk memproduksi pangan. Juga prospektus lainnya di pedesaan. Peluang-peluang di perkotaan juga menjadi opsi lain. Seperti pemanfaatan pekarangan dan taman di rumah perkotaan,”tutur Jainal Jen Maro, dalam siaran persnya, Senin (13/07/2020).

Oleh karena itu, dia menerangkan, lewat Jaringan Aksi Peduli Ketahanan Pangan Alumni Fakultas Pertanian Se-Indonesia, para alumni Fakultas Pertanian saat ini yang tersebar di berbagai bidang pekerjaan, yang tersebar di kota dan pedesaan, mempunyai kapasitas akademis dan finansial, tenaga dan jejaring untuk ikut mengambil peran.

“Peran yang dilakukan adalah membangun sinergis dengan berbagai pemangku kepentingan khususnya Pemerintah untuk bersama membangun ketahanan pangan,”jelasnya.

Dari berbagai telaah lembaga riset nasional dan internasional, menurut Jen Maro, beberapa tahun ke depan terjadi kontraksi ekonomi berupa penurunan pertumbuhan ekonomi global. Malah, lanjutnya, diduga pertumbuhan ekonomi global bisa terjadi di bawah nol persen.

“Keadaan ini adalah akibat pandemi global. Bukanlah kesalahan para pihak dalam tata kelola negara dan Politik,”ucapnya.

Indonesia dengan penduduk 267 Juta jiwa sangat memerlukan ketersediaan pangan, beberapa tahun ke depan. Ketersediaan haruslah turunan dari ketahanan pangan, adanya kemandirian produktivitas karena ada kegamangan mencermati turbulensi perekonomian global.

“Kemandirian produktivitas diharapkan juga berdampak positif pada ketersediaan lapangan kerja di pedesaan, peningkatan daya beli para petani, khususnya di pedesaan,”ujar peneliti pangan jebolan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.

Aksi peduli ketahanan pangan ini dikerjakan dengan mematuhi protokol Covid-19. Namun, perlu dicermati, bahwa penularan Covid-19 di berbagai pedesaan di Indonesia sangat minimal. Malah daerah-daerah Zona Hijau infeksi Covid-19 adalah daerah pertanian.

“Dapat dipahami, aksi ini tidaklah berbahaya dalam program pencegahan penularan Covid-19,”tuturnya.

Jainal Jen Maro menuturkan, untuk menuju solusi krisis pangan, jaringan ini menghimpun populasi alumni Fakultas Pertanian se-Indonesia. Baik pada tingkatan diploma, S1, S2 dan S3.

“Untuk alumni IPB dan Sekolah Tinggi Pertanian ada kekecualian melibatkan seluruh alumninya. Lulusan lulusan SPMA diharapkan mempunyai rasa yang sama untuk ikut dalam gerakan ini. Totalitas elemen Jaringan diproyeksikan 100 ribu orang efektif,”bebernya.

Setiap satu orang elemen jaringan akan membangun ketahanan pangan satu desa dengan prioritas pemanfaatan lahan lahan kosong.

Satu elemen bisa bersinergis dengan pihak lain untuk bersama membangun ketahanan pangan desa tersebut. Total desa yang dijaga dan dibangun sejumlah 100.000 desa, yang hampir 20 % dari jumlah desa Indonesia.

Pada setiap elemen mempunyai kebebasan berinovasi meningkatkan kinerja produktivitas pangan desa yang disupport oleh markas pusat Jaringan.

Pembiayaan pembiayaan ditanggung baik sendiri maupun bersama sama, dan tidak menutup diri bersinergi dengan pihak lain dalam arak arakan gerakan ketahanan pangan nasional.

Kemudian, semua pekerjaan dihitung progres, dengan target 5 hektar per desa, dengan produktivitas setara Padi. Total target adalah setara 500 ribu hektar, dengan target output 5 ton per hektar.

Kemudian, per Periode kwartal, jaringan ini ditarget mempunyai kinerja sebesar 2,5 juta ton setara padi atau sebesar 7,5 juta ton per tahun.

“Kinerja ini lebih dari cukup untuk menopang ketahanan pangan nasional dalam 2 tahun ke depan pasca pandemi Covid-19. Dampak positif adalah stabilitas yang berdampak pada stressing focus Pemerintah merenovasi Pembangunan nasional,”ujar Jen Maro.

Oleh karena itu, dia berharap semua jejaring, pemerintah dan seluruh stakeholders bisa bersinergi dengan para pihak pemangku kepentingan bangsa, untuk melakukan ketahanan pangan. (cr)

Pos terkait