KPA: Ratusan Anak Usia 5-15 Tahun Menderita Gangguan Mental Akibat Kecanduan Game Online

  • Whatsapp
Lampung – Bertempat di Mall Kedaton Lampung Sabtu, (19/10/2019) Istri Gubernur Bandar Lampung Riana Sari Arrinal, mengajak masyarakat Indonesia dan secara khusus bagi para orangtua untuk mengenalkan dan mengajarkan kembali permainan anak tradisionil kepada anak-anak.

“Permainan tradisiinal anak Ini sangat penting bagi anak-anak untuk memberikan kesempatan mengembangkan bakat, minat, waktu luang anak serta pengembangan kepribadian anak berbasis budaya.”ujar Riana dihadapan ratusan anak paud, SD dan siswa SMP.

Permainan tradisional anak itu kata Riana, mengajarkan pada anak untuk saling kerjasama segala hal dan untuk saling menghormati dan solider diantara sesama anak-anak.

Muat Lebih

Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait menyambut baik ajakan bunda Paud Lampung yang mencanangkan dan mendeklarasikan untuk kembali mengenalkan dan mengajarkan kepada anak permainan tradisional anak berbasis budaya lokal yang sudah mulai ditinggalkan anak-anak.

Arist menambahkan, pelestarian permainan tradisional anak berbasis budaya lokal ini patut mendapat dukungan semua komponen masyatakat khususnya pemerintah ditengah kepungan permainaman tradisional impor sebagai upaya untuk melupakan anak terhadap gadget, games online, yang telah menjadi candu dikalangan anak-anak di Indonesia.

“Memberikan, mengenalkan dan mengajarkan permainan anak tradisionil diyakini sebagai salah cara untuk mengurangi kecanduan anak terhadap Gawai. Survey 2018 menemukan hampir 2,1 juta anak saat ini kecanduan gawai dan game online.”ungkapnya.

Yang megejutkan kata Ariest Rumah Sakit Jiwa Cisarua Jawa Barat baru-baru ini juga melaporkan sebanyak 209 anak usia 5-15 tahun dalam kondisi menderita gangguan mental dan jiwa akibat kencanduan gawai, dan game online.

“Banyak anak-anak ditemukan saat ini mengalami ganguan mental dan jiwa, kerusakan mata, sakau jika tidak memainkan gawai, penurunan nilai akademik anti dan kehilangan orientasi terhadap lingkungan sosial, cemas jika internet dan listrik mati dan bahkan percobaan bunuh diri,” jelas Arist kepada awak media.

Keadaan ini diperparah dengan permisipnya para orangtua kepada anak. Orangtua juga ikut sibuk bahkan tergantung pula pada handphone sehingga melupakan tugas dan tanggungjawabnya untuk mendidik dan mendampingi ini.

Anak dibiarkan asyik sendiri dengan gadget dan game onlinenya tanpa kendali, yang penting  anak tidak mengganggu keasyikan orangtua.

Sementara itu Dede Haryadi, Ketua Panitia Pelaksana Pencanangan Pelestarian Permainan Tradisional Anak menyebut, pencanangan pelestarian permainan trasional anak berbasis budaya bertajuk #SAVE OUR TRADITIONAL GAME akan dikembangkan dan disosialisasikan ke sekolah-sekolah mulai tingkat Paud  SD dan SMP dan di komunitas-komunitas anak.

Aryanto Wertha, Ketua LPA Propinsi Lampung menyampaikan bahwa pencanangan Nasional Pelestarian Permainan Tradisional Anak adalah salah satuk program LPA dan Komnas Perlindungan Anak yang dicanangkan bersama Bunda Paud Lampung dimulai dari Propinsi Lampung untuk diteruskan ke propinsi lainnya.

“Untuk kesediaan dan perhatian serius Bunda Paud Lampung mengembalikan dan mengenalkan keberadaan permainan  tradisional anak yng sudah mulai punah dan ditinggalkan patut diberikan apresiasi, tambah Aryanto.

Pos terkait