Hadir Sebagai Saksi Sengketa Tanah Seluas 1.600, Begini Penjelasan DR.Manumpak Sianturi

  • Whatsapp

Bekasi – Pengadilan Negeri Kota Bekasi menghadirkan DR Manumpak Sianturi SH.MH.MM sebagai saksi atas sengketa tanah dengan luas 1.600 m2 antara Acam Bin Mendung (79) dengan Laurence M.Takke, selaku pemilik PT Anugerah Duta Sejati (PT. ADS) pada Senin, (7/10).

Dalam konfrensi persnya pada Rabu, (9/10/2019), DR.Manumpak Sianturi mengatakan bahwa persidangan Acam Bin Mendung murni kasus pidana.

Muat Lebih

“Bahwa, sidang kemarin (Acam), itu benar -benar murni pidana. karena apa? Karena dinyatakan oleh Lurah, Camat bahwa bukti kepemilikan Girik C. No. 997, Persil 29.D.26 tidak terdafatar dan tidak tercatat di Kelurahan.”ujarnya.

Dia mengakui, sudah 14 tahun lamanya menguasai tanah tersebut yakni mulai sejak tahun 2001, 2002 dan 2003 hingga surat  terbit pada 2004. namun kata dia, setelah adanya tol Becakayu, banyak oknum yang mengaku-mengaku memiliki surat kepemilikan atas tanah bahkan hingga tiga surat kepemilikan.

“Sampai 14 tahun saya kuasai tanah tersebut tidak ada masalah sama siapa pun. Kalau disitu ada tanah si Acam, kenapa enggak komplain, sampai saya kontrakan tanah itu 7 tahun, engga ada yang ngomong apa apa.” kata DR Manumpak Sianturi.

Dia pun menuding bahwa surat Girik yang dimunculkan oleh pihak Acam Bin Mendung (79) dan H. Tatang beserta Girik lainya adalah semua dipalsukan.  Hal ini terbukti setelah polisi memeriksa Lurah dan Camat dan ternyata Girik yang dimaksud tidak terdaftar dan tidak tercatat di kantor Kelurahan dan pembuktian pajaknya juga tidak ada.

“Terus, apa yang di pegang oleh mereka, berarti surat itu kan hanya bikin – bikinan di kaki lima. Saya bukan orang tolol, bukan orang bodoh. Kalau dulu Girik itu ada, sudah cepat saya buatkan sertifikatnya. Makanya, saya buat surat ke kelurahan dan menanyakan, apakah ada Girik. No. C 997, Persial 29. D 26, lalu dijawab oleh pihak kelurahan tidak ada.”tuturnya.

READ  BCA EXPO 2019 Berikan Kenyamanan dan Kepuasan Bagi Nasabah 

Dia juga menjelaskan alasan dirinya melakukan over alih kepemilikan atas tanah tersebut lantaran tanah tersebut adalah tanah garapan murni dan tidak ada hak milik.

“Nah sampai sekarang permasalahannya disitu, karena katanya ada korban penembakan beberapa waktu lalu di atas tanah yang kini bersengketa.” ucapnya.

Lebih lanjut ia katakan, waktu berpengadilan pada 2004, ia  melayangkan gugatan terhadap Bindu Sirait (almarhum) dan Zaelani selaku pemilik awal tanah ke pengadilan.

“Kenapa mereka saya gugat, karena mereka sudah bohongin saya sehingga saya gak bisa buat pajak, dan surat itu tidak bisa saya sartifikatkan, akhirnya datang lah badan hukum, baru bisa lah ku buatkan PBB nya, tuturnya.

Diceritakannya, awalnya tanah tersebut  adalah milik Zaelani. Namun oleh Zaelani tanah itu diover alih ke Zaelani Taman di rumahnya. Kemudian Zaelani Taman over alih ke Bindu Sirait dan setelah Bindu Sirait (Almarhun) tanah itu diover alih ke saya sebagai yang terakhir lalu suratnya di buat pada 2004.

“Mengapa suratnya saya buat tahun 2004. Yah, karena tanah itu belum lunas. Setelah lunas, baru buat suratnya.”paparnya.

Lanjutnya, karena waktu itu timbul ada hak kepemilikan atas Girik C nomor 997, Persial 29.D.26 itu, ia pun membawa hal itu ke pengadilan dan setelah di pengadilan, ternyata Girik C nomor 997 itu tidak ada dan suratnya kemudian dibatalkan oleh pihak pengadilan karena cacat.

“Semua bukti keputusan pengadilan ada sama saya.” ujar DR Manumpak Sianturi.

Tak hanya itu, DR.Manumpak Sianturi  juga juga mengaku sebagai korban dari LTM, pemilik PT ADS karena dirinya baru dibayar Rp6 miliar.”Alasannya belum dibayar sisa Rp1 miliar karena masih ada proses hukum dengan status lahan tersebut,” ucapnya.(ton).

Advertisement

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.