Bos Komplotan Curanmor Ditembak Mati 

  • Whatsapp

Jakarta – Komplotan pelaku pencurian kendaraan bermotor asal Lampung yang biasa beraksi di Bekasi berakhir di penjara. Bahkan bos komplotannya tewas ditembak polisi karena berusaha melarikan diri.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono dalam siaran pers Sabtu (16/7/2019) mengatakan, kompolotan tersebut ditangkap di Lampung setelah polisi melakukan penyelidikan selama satu tahun terakhir

“Penyidik menemukan bahwa pelaku teridentifikasi ada di Lampung Timur setelah setahun pengintaian. Tentunya dengan satu tim berangkat ke Lampung berbekal informasi akhirnya penyidik sampai ke Lampung,” kata Argo dalam konferensi pers di RS Polri Kramat Jati, Sabtu (15/6/2019).

Komplotan pertama ditangkap ialah Junaedi (30 tahun) pada Rabu (12/6/2019) lalu. Berbekal informasi dari Junaedi, polisi menangkap anggota lainnya yaitu Hengky, pada Kamis (13/6/2019).

Usai meringkus dua anggota komplotan, polisi pun menangkap pimpinan komplotan yang bernama Agus. Namun dalam penangkapan, Agus melawan sehingga polisi terpaksa menembak mati.

“Anggota kan bawa senpi, ya, itu tidak mau terancam jiwanya pada saat kita bawa untuk mencari DPO kita lakukan tindakan tegas terukur,” kata Argo.

Polisi mengamankan sejumlah barang bukti antara lain telepon genggam, senjata tajam, serta satu pucuk senjata api rakitan.

Para tersangka dikenakan pasal berlapis yaitu Pasal 363 KUHP, Pasal 365 KUHP, dan Pasal 1 Ayat (1) UU Darurat No 12 Tahun 1951 dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara.

SUDAH MENCURI 100 MOTOR

Komplotan pelaku curanmor di Bekasi yang diringkus Polda Metro Jaya dapat menggondol enam sampai tujuh sepeda motor setiap harinya.

Seorang anggota kawanan mengatakan, selama setahun beroperasi, mereka sudah mencuri lebih dari 100 motor.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan, kelompok tersebut sudah beraksi selama satu tahun terakhir di wilayah Bekasi dan Jakarta Timur.

“Kita tanya rata-rata dapat antara enam sampai tujuh kendaraan dalam sehari. Kurang lebih setahun, setahun ada 365 hari, nah itu,” kata Argo saat konferensi pers di RS Polri Kramat Jati, Sabtu (15/6/2019).

BIASA MENCURI DI LAHAN TERBUKA

Argo menuturkan, kelompok tersebut biasanya mengincar sepeda motor yang terparkir di lahan terbuka seperti tempat parkir minimarket, halaman kontrakan, atau tempat parkir ruko.

“Pelaku menggunakan sepeda motor berboncengan mencari sasaran pencurian, membawa kunci letter T dan membekali diri dengan senjata api rakitan pada setiap aksinya,” ujar Argo.

Adapun kawasan yang biasa menjadi sasaran antara lain Pondok Gede, Jatiasih, Cikarang, Lubang Buaya, dan Kampung Melayu.

MOTOR CURIAN DIJUAL Rp2 JUTA DI SUKABUMI ATAU PANGGANDARAN

Sepeda motor curian itu dibawa ke Sukabumi atau Pangandaran untuk dijual sebesar Rp 2.000.000 untuk setiap unitnya. “

Jadi, dari hasil pencurian ini, motor ini dilempar atau dijual di daerah Sukabumi, Pangandaran dengan harga Rp 2.000.000-an, tergantung motornya, dia lihat kondisinya,” kata Argo.

Ia menuturkan, uang hasil penjualan barang curian itu nantinya akan dibagi rata oleh setiap anggota komplotan. Usai berkali-kali mencuri dan mendapat uang yang banyak, para pelaku akan kembali ke kampungnya di Lampung.

Para pelaku itu bertingkah bak saudagar saat tiba di Lampung karena dapat membawa uang berlimpah seakan-akan bekerja secara halal di perantauan.

DUA ORANG MASIH BURON

Argo mengatakan, polisi kini masih mencari dua orang anggota komplotan lainnya yang berstatus buron yaitu Ujang dan John (san). 

Pos terkait