oleh

Melihat Rindu dan Cinta di Ekowisata Mangrove Babelan

Bekasi – Ekowisata Hutan Mangrove Sungai Rindu yang terletak di Sungai Kaloran Kampung Sembilangan, Desa Hurip Jaya, Kecamatan Babalen semakin ramai dikunjungi warga pada saat libur panjang akhir tahun.

“Utamanya pengunjung datang dari Jembatan Cinta di Tarumajaya, melintasi pesisir dan konservasi mangrove lalu mampir di Sungai Rindu untuk sekadar membeli makanan dan minuman atau ingin foto-foto di lokasi ini” kata Warga Kampung Sembilangan, Bisot, di Hurip Jaya Babelan, Kamis (27/12/2018).

Sementara, Anggota BPD Desa Hurip Jaya, Mustana mrngatakan awalnya hanya pemuda-pemudi yang tergabung dalam Ikatan Remaja Putra-Putri (IRTRA) Sembilangan membuat saung-saung berteduh dan untuk warga sekitar bulan Mei 2018 lalu. Namun, semakin hari semakin ramai pengunjung, makin banyak kalangan wisatawan yang datang di Sungai Rindu.

Sungai Rindu sebagai objek wisata lokal, kata Kang Mus sapaan akrabnya, hanya berjarak tempuh sekitar 15 menit dari Jembatan Cinta ini mulai mendatangkan wisatawan lokal.

Tak hanya itu, para pemilik perahu pun dibanjiri omset sebagai jasa angkutan wisatawan lokal yang akan menuju Sungai Rindu, sebelumnya wisatawan akan diajaknya mengelilingi kawasan konservasi hutan mangrove mulai dari Jembatan Cinta.

Seperti gayung bersambut, lanjut Kang Mus, kehadiran destinasi wisata lokal ini sangat disambut oleh warga sekitar. Pasalnya, potensi wisata yang selama ini terpendam, dapat terekspose sampai keluar hingga warga sekitar pun mempunyai usaha tersendiri seiring ramainya wisatawan yang hadir

Sebagai anggota BPD, Kang Mus mencoba menggagas peraturan desa (Perdes) agar ekowisata Sungai Rindu memiliki sistem dan dasar legalitas yang pasti. Sehingga demikian, Kang Mus pun terpanggil dan ingin membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) untuk membesarkan ekowisata mangrove dan sebagai wadah pendidikan kesadaran masyarakat atas pentingnya fungsi mangrove bagi ekosistem pesisir khususnya bagi para petani rumput laut dan petambak.

“Alhamdulillah, perkembangan ekonomi di pelosok Kampung Sembilangan mulai bergeliat dengan adanya destinasi ekowisata mangrove Sungai Rindu yang menjadi alternatif warga Kampung Sembilangan di saat penghasilan dari tambak sedang lesu seperti saat ini di mana rumput laut Gracilaria kering dihargai Rp.2.500 per kilo,” pungkasnya. (dra)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed