Satu Tahun Tak Berdaya, Aryo, Pria Lumpuh Berharap Ada Bantuan Dari Pemerintah

  • Whatsapp

Babelan – Sudah satu tahun lebih Aryo Pamungkas Wibowo, warga Kampung Jati RT 001/RW 015 Dusun III, Kelurahan Kebalen, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi menderita penyakit kelumpuhan.

Pria berusia 26 tahun ini tak berdaya. Ia terbaring dan hanya bisa pasrah dan berdoa agar bisa sembuh sembari menahan sakit. Ia berharap ada uluran tangan dan bantuan dari pemerintah setempat.

Penyebab kelumpuhan yang diderita Aryo akibat terjatuh saat mengikuti perlombaan panjat pinang di hari kemerdekaan RI ke-72.

Karena tak memiliki biaya, semua kegiatan Aryo pun hanya berlangsung dengan bantuan orang lain, termasuk makan yang harus disuapi.

Abdul Somad (61), orangtua Aryo, mengungkapkan, selama ini keluarganya tidak pernah tersentuh oleh segela bentuk jaminan pelayanan kesehatan milik pemerintah. Baik itu BPJS maupun yang sering orang sebut sebagai Kartu Indonesia Sehat (KIS).

“Sakitnya sudah setahun. Sempat pernah dirawat ke rumah sakit dan manggil tukang urut, cuma mau bagaimana berobat lagi juga udah gak punya biaya, nggak punya BPJS, dan nggak punya semuanya,” ujar Abdul, Kamis (6/9/2018).

Karena tak ada jaminan kesehatan, ia sudah tak sanggup lagi untuk membawa anaknya ke rumah sakit. Jangankan soal untuk uang perawatan, ongkos ke rumah sakit saja menurutnya tak punya. Apalagi, ia hanya sebagai kuli tani kecil yang penghasilannya hanya cukup untuk makan sehari-hari.

“Kalau ngurus untuk buat BPJS sendiri saya gak ngerti caranya, yah namanya orang kampung. Waktu itu udah pernah minta bantuan ke RT/RW untuk dibuatkan BPJS, ke Kelurahan juga udah pernah, tapi begitu dah saya mah gak mau bilang apa-apa,” bebernya.

Faktor kemiskinan membuat keluarga Abdul harus rela hidup dalam kesusahan. Kondisi rumah Abdul sendiri memang sangat memprihatinkan dan yaris tidak ada barang berharga di rumah itu.

Musibah yang mengakibatkan keretakan pada tulang ekor Aryo, dari hari ke hari membuat seluruh tubuhnya makin mengecil.

Sementara Nyai (58), ibu Aryo, mengaku masih ingin membawa anak tercintanya itu ke rumah sakit agar bisa sembuh seperti sediakala. Ia mengaku tak tega karena hanya memberi obat ala kadarnya.

“Ini aja kalau gak dibantu dengan selang anak saya gak bisa buang ari kecil dan besar, selang untuk buang kotoranya juga ini gak diganti-ganti selama 7 bulan. Belum pernah ada orang dari pemerintah yang kesini. Harapan kami pemerintah bisa menolong dan membantu anak saya ini, saya cuma ingin kesembuhan untuk anak saya, karena anak adalah harapan orangtua,” harapnya sambil mengeluarkan air mata.

Ketiadaan biaya memang cenderung membuat warga miskin tidak mampu mengatasi masalah yang mereka hadapi. Penderitaan Aryo bagai menambah panjang daftar warga miskin yang tidak tersentuh bantuan pemerintah di bidang kesehatan. Padahal, anggaran untuk pelayanan kesehatan cenderung meningkat setiap tahun.

Pos terkait