Wartawan Kompas TV Dipukul Oknum Petugas Pengamanan Obor Asian Games.

  • Whatsapp
foto para awak media melaporkan kasus pemukulan wartawan Kompas TV ke Polda Jambi.

Jambi – Lagi, salah seorang jurnalis yang tengah bertugas kembali mengalami tindak kekerasan. Seperti yang dialami Suci (24), wartawan Kompas TV yang dipukul oknum petugas pengamanan obor Asian Games.

Suci mengatakan, insiden itu terjadi pada Jumat, saat ia tengah bertugas melakukan peliputan pengamanan obor Asian Games. Saat mau ambil dokumentasi pawai obor, namun tiba tiba dipukul oleh oknum petugas tersebut.

“Saya dipukul di bagian ulu hati. Saya tidak ganggu dia, tiba-tiba saja dipukul. Padahal saya sudah bilang dari media. Dia bilang tidak peduli siapa saya,” jelasnya.

Suci mengaku saat ini kondisinya baik baik saja. Namun perlakuan kasar petugas yang tidak dapat ditolerir itu telah membuatnya merasa profesinya sebagai wartawan tidak dihargai oleh petugas tersebut.

Terkait insiden itu, Suci (24) melaporkan oknum petugas pengamanan api obor Asian Games yang melakukan tindak kekerasan terhadap dirinya pada Jumat 3 Agustus 2018 ke Polda Jambi.

Suci datang ke Polda Jambi pada Sabtu 4 Agustus 2018 siang didampingi sejumlah wartawan berbagai media di Jambi. Menurut Suci, laporannya ke polisi menggunakan Pasal dalam Undang Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999.

“Saya sengaja melaporkan oknum pengamanan tersebut menggunakan UU Pers. Karena saya merasa tindakannya itu berkaitan dengan upaya menghalang-halangi kerja jurnalis. Kerja jurnalistik ini diatur oleh UU Pers,” kata Suci kepada wartawan Sabtu (4/8/ 2018) sore.

Meski sempat mengalami rasa sakit karena bagian perutnya dipukul oleh oknum petugas tersebut, namun Suci memang tidak melaporkan soal itu. Sebab, bagi dia penghalangan kerja wartawan menjadi persoalan yang lebih serius.

“Kondisi saya saat ini memang tidak apa-apa, meski sempat mengalami rasa sakit. Namun bagi saya, tindakan penghalangan kerja wartawan dengan kekerasan seperti yang dilakukan oleh oknum tersebut merupakan persoalan yang lebih serius dan berdampak pada kebebasan pers,” ujar Suci lagi.

Diakui Suci, laporan dia ke Polda juga tidak ditangani di bagian umum atau di sentra pelanyanan terpadu oleh Polda Jambi, melainkan di bagian khusus terkait penanganan UU Pers.

Sebelumnya, sejumlah organisasi pers di Jambi menyatakan sikap atas kejadian tersebut. Mereka mengecam tindakan yang termasuk dalam kekerasan dan upaya menghalang-halangi kerja wartawan tersebut.

Ketua Ikatan Wartawan Online (IWO) Provinsi Jambi, Nurul Fahmy, yang mengikuti sejak awal perkembangan kasus ini juga menyesalkan kejadian itu.

Menurut dia, meski satuan pengamanan itu tengah mengemban tugas mensukseskan kegiatan nasional Asian Games 2018, namun harus diingat juga bahwa ada elemen lain yang juga tengah menjalankan tugas yang tidak kalah penting untuk kesuksesan acara tersebut, yakni wartawan di lapangan.

“Jadi persoalan ini lebih kepada bagaimana satu pihak agar memahami tugas dan tanggung jawab elemen lainnya. Saling mengerti dan memahami tugas masing-masing. Koordinator pengamanan atau komandannya harus memberi tahu bahwa di lapangan ada wartawan yang tengah bekerja.  Kerja mereka itu dilindungi oleh UU Pers.

Sosialisasi ini menurut dia menjadi penting dilakukan terus-menerus oleh komandan atau koordinator kepada satuan di lapangan. Sehingga gesekan dapat dihindari.

“Jika setiap briefing anggotanya selalu diingatkan bahwa jangan menghalangi kerja wartawan di lapangan, saya pikir gesekan ini tidak akan terjadi,” kata Fahmi (red).

Pos terkait