Kyai Maky : Penjaringan Calon Walikota Bekasi Oleh DPC Partai Demokrat Hanya Formalitas Belaka

BEKASI, TEROPONG INDONESUA.com – Penjaringan Calon Walikota dari kader sendiri yang dilakukan oleh Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Bekasi Demokrat Kota Bekasi, Andi Zabidi dianggap hanya sebatas formalitas semata. Hal itu diungkapkan Kyai Abdullah Maky, salah satu bakal calon Walikota Bekasi yang santer digemborkan sebelumnya

Ia menyebut, penilaian ini dibuktikan atas adanya MoU antara Partai Demokrat dengan Partai Golkar untuk mengusung Rahmat Effendi dan Tri Ardhianto sebagai pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Bekasi pada 30 Desember 2017 tanpa sepengetahuan dirinya. Terlebih pada saat itu tengah melaksanakan tahapan penjaringan  dengan membuat posko pemenangan, penyebaran spanduk, sosialisasi ke masyarakat baik secara langsung maupun melalui media cetak, radio, TV dan media on line. “Jadi, saya nilai Ketua DPC Partai Demokrat Kota Bekasi, Andi Zabidi sebagai penghianat partai,” kata Kyai Maky

Ia bahkan sudah melaksanakan survey internal sendiri, namun tiba – tiba ada Mou dengan Partai Golkar. padahal saya sebagai bakal calon belum menyatakan mengundurkan diri,” katanya heran usai dimintai penjelasannya terkait tudingannya ke Andi Zabidi, yang dianggap menjegalnya maju menjadi calon Walikota Bekasi, Selasa (9/1/2018).

Diceritakannya, sebelumnya Andi Zabidi pernah mengatakan bahwa, DPC Partai Demokrat tidak berhak dan tidak berwenang untuk menentukan pilihan karena keputusan pilihan calon kandidat itu  kewenangan DPD dan DPP Partai Demokrat, tetapi nyataannya dia (Andi Zabidi – red) memutuskan sepihak tanpa sepengetahuan dirinya.

Berkas administrasi dalam tahapan penjaringan seperti hasil survey tak dilaporkan ke DPC Demokrat kata Maky, perlu diluruskan. kronologisnya lanjut Kyai, pada 6 November 2017, tiga bakal calon yakni KH. Abdullah Maky, Adhi Firdaus dan Viky Prasetyo diminta untuk melakukan survey yang dihadiri KH. Maky sendiri

Karena diminta untuk melakukan survey, maka dirinya mau melakukan survey dengan satu permintaan agar menarik terlebih dahulu nama Adhi Firdaus yang sudah terlanjur di daftarkan ke DPD dan DPP Partai Demokrat.

Menunggu proses penarikan nama Adhi Firdaus memakan waktu lama yang tak kunjung dilaksanakan oleh DPC Partai Demokrat. Ahirnya  sampai pelaksanaan Musda DPD Partai Demokrat di Bandung paparnya

Setelah itu, Kyai Maky menghadap ke ketua DPC pada 14 Desember 2017 di kantor DPC Partai Demokrat, namun dinyatakan waktu sudah habis dan Andi Zabidi tidak mau bertanggung  jawab lagi.

Namun ia tetap melakukan survey dengan lembaga survey Jaringan Swara Indonesia (JSI) pada 18 Desember 2017. Beberapa hari kemudian terangnya, Ia pun di telepon oleh Rudi Kadarisman, Pengurus DPP  Demokrat untuk tidak melanjutkan survey dengan alasan batas waktu sudah selesai karena menurut Rudi, penentuan kandidat akan di umumkan pada tanggal 27 Desember 2017 padahal survey Kyai Maky, akan selesai pada tangga 31 Desember 2017 tuturnya.

Ternyata sebut Maky, setelah dikonfirmasi ke pengurus DPP saat menyerahkan laporan bakal calon dipentahapan akhir kepada Ketua Pemenangan Pemilu (KPP), OKK, Konwas, Mahkamah Partai, dan Sekjend

Informasi yang didapat, jika penyerahaan hasil survey belum ditutup dan bisa ditunggu sampai tanggal  7 Januari 2018. “Berarti pembohongan besar yang dilakukan oleh ketua DPC Partai Demokrat Kota Bekasi karena kronologis diatas sudah jelas bahwa, DPC Partai Demokrat dari awal tidak ada niat untuk mengusung kader sendiri,  maka penjaringan oleh DPC Partai Demokrat hanya formalitas belaka,” kata Kyai Maky geram (norton)

Pos terkait