oleh

Mau Tau Gaji Penyiar Radio di Jakarta? Baca ini..

JAKARTA, TEROPONG INDONESIA.com – “Dulu, kalau ditanya calon mertua kerja apa, terus kamu bilang penyiar radio, pasti ditanya mau kasih anak makan apa? tapi jaman sekarang sudah berbeda.” ucap Rafig, Ketua Umum Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia atau disingkat PRSSNI.

Rafiq menuturkan, pekerjaan penyiar saat ini berbeda dengan penyiar di masa lampau. Bekerja di sebuah radio swasta di bilangan Jakarta, terlebih menjadi sebuah penyiar radio, memang kadang masih dianggap kurang menjanjikan oleh orang awam. Namun sekarang, posisi penyiar radio justru dianggap sebagai posisi strategis dengan penghasilan yang sangat menjanjikan.

Ketua Umum PRSSNI DKI Jakarta, M Rafiq, mengungkapkan banyak diantara mereka yang bekerja atau berprofesi sebagai penyiar radio di Jakarta bisa menerima honor hingga puluhan juta rupiah dalam sebulan.

“Di Jakarta itu ada penyiar radio yang tiap bulannya bisa bawa pulang uang Rp 60 juta. Jadi, yang cuma Rp 20 juta sebulan banyak,” kata Rafiq dalam konferensi pers pada acara Radio Day di gedung Ayana Mid Plaza.

Rafiq menjelaskan, puluhan juta rupiah yang didapat oleh penyiar itu murni honor sebagai penyiar radio di salah satu radio swasta. Sehingga, jika penyiar itu memiliki pekerjaan lain di luar tugasnya sebagai penyiar, misalkan menerima tawaran sebagai MC (Master of Ceremony) maupun sebagai moderator di acara-acara tertentu, maka penghasilan bulanannya bisa lebih besar lagi.

“Jadi, kebayang kan? Dia siaran pagi dari pukul 06.00 sampai 10.00 WIB, setiap hari dari Senin sampai Jumat. Dari situ, bisa dapat honor Rp 60 juta sebulan,” tutur Rafiq.

Membicarakan gaji bulanan seorang penyiar radio, menurut Rafiq bisa menimbulkan rasa iri di kalangan sesama pekerja di sebuah radio. Hal itu dikarenakan bisa dibilang gaji seorang penyiarlah yang sampai saat ini paling besar ketimbang posisi lain, bahkan untuk posisi Program Director gajinya masih di bawah gaji penyiar.

Tommy Timoteus, seorang Creative Assistant di Radio Trax FM Jakarta membenarkan pernyataan Rafiq tersebut. “Gaji sebesar itu kalau isi slot prime time, salah satu grup radio besar tempat teman saya bekerja, untuk isi prime time memang bisa sampai Rp 50 juta sebulan. Sementara, rate job MC yang biasa digeluti oleh seorang penyiar bisa mencapai Rp 5 juta untuk satu acara.” ujar Tommy.

Terlepas dari soal gaji, penyiar dan radio pada umumnya kini lebih memanjakan pendengar, dengan berusaha mencari tahu apa minat serta kesukaan target pendengarnya, berbeda dengan radio zaman dulu yang lebih sering mengarahkan pendengar mengikuti idealisme yang diyakini radio tersebut. (Red/Kom)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed